JOMBANG,Bangjo.co.id – Tradisi tahunan Grebek Suro kembali digelar secara meriah oleh masyarakat Dusun Pucangrejo, Dusun Tukum, dan Dusun Notorejo, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Kegiatan yang telah menjadi warisan budaya masyarakat setempat ini dilaksanakan di puncak Gunung Kuncung, tepatnya di kawasan makam Mbah Senari, yang dikenal sebagai Wali Wono Segoro sekaligus punden yang dihormati oleh warga ketiga dusun tersebut.
Sejak pagi hari, ratusan warga dari berbagai kalangan tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Masing-masing dusun membawa arak-arakan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil pertanian yang kemudian diarak menuju Gunung Kuncung. Arak-arakan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas kesejahteraan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada masyarakat.
Kegiatan Grebek Suro tahun ini juga mendapat dukungan penuh dari salah satu tokoh masyarakat, Mbok Sutini, yang selama ini dikenal sebagai donatur pribadi yang peduli terhadap pelestarian tradisi dan kebersamaan warga. Dengan dana pribadinya, Mbok Sutini turut membantu berbagai kebutuhan acara, mulai dari penyembelihan lima hingga tujuh ekor kambing untuk konsumsi bersama, pembangunan gapura, hingga penyelenggaraan hiburan rakyat berupa pagelaran seni kuda lumping.
Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Muspika Kecamatan Wonosalam, para tokoh masyarakat, tokoh agama, serta masyarakat setempat dan tamu yang datang dari luar daerah Wonosalam untuk menyaksikan kemeriahan tradisi tahunan tersebut.
Menurut masyarakat setempat, Grebek Suro bukan sekadar acara seremonial, melainkan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan, umur panjang, rezeki yang berkah, serta hasil pertanian yang terus memberikan manfaat bagi kehidupan warga.
Saat ditemui awak media, Mbok Sutini menyampaikan bahwa seluruh dukungan yang diberikannya semata-mata untuk kepentingan masyarakat dan sebagai warisan sejarah bagi generasi mendatang.
“Pokoke iki kabeh kanggo wong-wong ben iso kanggo sejarah mbesok lek wis tak tinggal,” ungkap Mbok Sutini.
Ia berharap tradisi Grebek Suro dapat terus dilestarikan dan menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, lancar, dan tertib. Meski sempat diwarnai tradisi berebut tumpeng yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, seluruh peserta tetap menjaga suasana penuh kebersamaan dan kegembiraan.
Masyarakat tampak sangat menikmati jalannya acara. Kemeriahan Grebek Suro akan berlanjut dengan pagelaran seni Kuda Lumping dan hiburan DJ yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026, di depan kediaman Mbok Sutini, sebagai penutup rangkaian perayaan tahun ini. Tradisi yang terus dijaga dari tahun ke tahun tersebut menjadi bukti kuatnya semangat masyarakat Wonosalam dalam melestarikan budaya sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga.
( Joko petir )


