JOMBANG,Bangjo.co.id – Seni tradisi kembali menjadi ruang pertemuan antara budaya, pemerintah, dan masyarakat. Ribuan warga memadati Alun-Alun Jombang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-116 Pemerintah Kabupaten Jombang sekaligus memeriahkan rangkaian Jombang Fest 2026. Tidak sekadar menjadi hiburan rakyat, pagelaran ini juga menjadi momentum untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi yang telah tumbuh dan diwariskan lintas generasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan. Warga dari berbagai kalangan memenuhi kawasan Alun-Alun Jombang, sementara masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung tetap bisa mengikuti kemeriahan melalui siaran langsung YouTube Jombangkab. Di panggung kehormatan tampak Wakil Bupati Jombang Salmanudin bersama istri, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Agus Purnomo, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang. Wakil Bupati hadir mewakili Bupati Jombang Warsubi yang pada awal kegiatan masih memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta.

Membacakan sambutan Bupati, Gus Salmanudin menyampaikan bahwa Bupati Warsubi sebenarnya berkeinginan untuk hadir dan membersamai masyarakat sejak awal acara. Namun, karena harus memenuhi undangan Presiden, Bupati menyampaikan salam dan memohon doa agar senantiasa diberikan kesehatan serta kelancaran dalam menjalankan tugas.

“Beliau sejak kemarin sore ingin mendampingi panjenengan, namun karena dipanggil Bapak Presiden Prabowo, beliau izin dan berkirim salam. Malam ini beliau sedang OTW menuju Alun-Alun Jombang. Mari kita doakan beliau senantiasa diberi kesehatan,” ujar Gus Wabup.

Ajakan tersebut disambut dengan doa Al-Fatihah bersama masyarakat yang hadir.

Dalam sambutan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jombang juga menegaskan komitmennya untuk terus memberikan ruang dan dukungan kepada para pelaku seni budaya lokal. Wayang kulit dipandang bukan hanya sebagai pertunjukan, melainkan bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, serta pesan moral yang relevan untuk diwariskan kepada generasi penerus.

“Semoga pagelaran wayang kulit malam ini dapat menghibur sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Jombang. Kita beri kesempatan kepada para pelaku seni untuk terus berkarya. Pemerintah Kabupaten Jombang kita pastikan akan terus mendukung kegiatan seni dan budaya sebagai bagian dari upaya merawat identitas daerah,” tuturnya.

Gus Wabup juga mengajak masyarakat untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian budaya, salah satunya dengan mempromosikan kesenian wayang kulit melalui media sosial. Dengan demikian, seni tradisi tidak hanya hidup di panggung pertunjukan, tetapi juga semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Suasana semakin semarak ketika Gus Wabup menghadirkan sesi kuis interaktif dengan hadiah langsung dari Bupati Jombang. Tiga warga yang berhasil menjawab pertanyaan seputar nama kelompok karawitan, judul gending, hingga visi dan misi pembangunan daerah memperoleh apresiasi khusus. Momen tersebut menghadirkan suasana akrab dan penuh kegembiraan, sekaligus menjadi cara menarik untuk mengenalkan seni budaya dan program pembangunan kepada masyarakat.

Sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai, masyarakat terlebih dahulu disuguhi penampilan kelompok karawitan Laras Kinanthi di bawah pimpinan Ketua TP PKK Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi. Dengan penuh percaya diri, para ibu TP PKK Kabupaten Jombang tampil membawakan lima lagu, yakni Mars PKK, Ladrang Wohing Aren, Gugur Gunung, Lancaran Serayu, dan Lancaran Suwe Ora Jamu.

Perpaduan instrumen gamelan dengan saxophone memberikan warna tersendiri dalam penampilan tersebut. Harmoni musik tradisional dan modern menghadirkan sajian yang menarik sekaligus menunjukkan bahwa kesenian daerah dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Nuansa kebersamaan dan kepedulian terhadap pendidikan inklusif juga mewarnai rangkaian acara. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Jombang memberikan ruang bagi Safira Isyana Putri, siswi berbakat dari SLB Negeri Jombang, untuk tampil membawakan lagu Indonesia Jaya. Penampilannya didampingi langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi dan Ketua DWP Kabupaten Jombang Lilik Agus Purnomo.

Penampilan Safira menjadi salah satu momen yang menyentuh perhatian masyarakat. Kehadirannya sekaligus mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berkarya, berprestasi, serta mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan budaya. Panggung perayaan daerah pun menjadi ruang terbuka yang menghadirkan semangat kesetaraan dan penghargaan terhadap keberagaman kemampuan.

Puncak prosesi pembukaan ditandai dengan penyerahan tokoh wayang Parikesit. Gus Wabup Salmanudin menyerahkan gunungan wayang kepada dalang nasional Ki MPP Bayu Aji sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang kulit dengan lakon Sang Parikesit. Pertunjukan semakin meriah dengan kehadiran bintang tamu Bojo Jo Klitik dan Jo Klutuk yang menambah daya tarik hiburan bagi masyarakat.

Kemeriahan malam itu semakin lengkap ketika Bupati Jombang Warsubi akhirnya tiba dari Jakarta. Didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, Bupati dapat bergabung dan membersamai masyarakat yang sejak awal antusias mengikuti pagelaran. Suasana Alun-Alun Jombang pun semakin gayeng dan hangat, dengan masyarakat menikmati pertunjukan Ki MPP Bayu Aji serta hiburan bersama Jo Klitik dan Jo Klutuk.

Melalui perayaan Hari Jadi Ke-116 ini, Pemerintah Kabupaten Jombang tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga meneguhkan pentingnya menjaga kesinambungan seni budaya daerah. Dukungan terhadap pelaku seni, ruang ekspresi bagi generasi muda, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar warisan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Alun-Alun Jombang menjadi gambaran bahwa kemajuan daerah tidak harus meninggalkan akar tradisi. Justru melalui budaya, kebersamaan, dan penghargaan terhadap potensi setiap warga, identitas Jombang dapat terus dirawat sekaligus diwariskan kepada generasi mendatang.