Scroll Untuk Lanjut Membaca

TULUNGAGUNG,Bangjo.co.id – Suasana malam dirumah Lukmandaka di Desa Bulus Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung, berubah menjadi ramai pengunjung. Ratusan warga tumpah ruah memadati area halaman rumah menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka tasyakuran suran.

Pagelaran wayang kulit ini menampilkan dua dalang muda berbakat dari generasi Z (Gen Z), yaitu Flamboyant Jingga Lukmandaka dan Banyu Biru Lukmandaka, rabu (8/7/2026) malam.

​Kehadiran kakak beradik ini menjadi magnet tersendiri bagi penonton. Tidak hanya dihadiri oleh kaum tua, namun barisan penonton juga didominasi oleh anak-anak muda yang penasaran dengan aksi panggung dua dalang flamboyan tersebut.

Kolaborasi Tradisi dan Jiwa Muda

​Flamboyant Jingga dan Banyu Biru berbagi panggung dengan sangat apik. Keduanya berhasil membawakan lakon ” Gathutkaca Winisuda ” pewayangan dengan sabetan (gerakan wayang) yang mantap, namun tetap menyelipkan guyonan-guyonan segar khas anak muda yang relevan dengan penonton masa kini.

​”Kami sengaja menggelar gebyakan kepada kedua putraku, Dalang Jingga dan Dalang Banyu karena ingin menunjukkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda di Desa Bulus, bahwa kesenian tradisional itu keren dan tidak kuno. Terbukti, malam ini antusiasme remaja sangat luar biasa,” ujar Lukmandaka selaku orang tua dalang di sela-sela acara.

​Iringan gending Jawa yang dinamis berpadu dengan tata lampu modern membuat pertunjukan yang berlangsung ini tidak membosankan. Beberapa warga yang hadir mengaku takjub dengan kelincahan jemari kedua dalang Gen Z tersebut dalam memainkan tokoh-tokoh pewayangan.

​”Biasanya anak muda sekarang lebih suka konser musik, tapi malam ini beda. Dalangnya masih muda, pembawaannya asyik, jadi kami yang seumuran juga betah nonton sampai selesai,” kata salah satu penonton remaja asal Kecamatan Bandung.

​Pagelaran wayang kulit tasyakuran Suran di rumah Lukman ini berhasil membuktikan bahwa di tangan generasi yang tepat, kebudayaan adiluhung bangsa seperti wayang kulit tidak akan punah tergerus zaman, melainkan justru menemukan ruang baru untuk terus bersinar.

 

(Suhari Othek).