KEDIRI, Bangjo.co.id — Kondisi jalan rusak di Dusun Prapatan, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, kembali menuai sorotan tajam. Kerusakan yang tak kunjung diperbaiki membuat warga resah dan memicu kekhawatiran akan keselamatan para pengguna jalan.
Selasa (12/05/2026), jalur yang menjadi akses vital menuju wilayah Kecamatan Puncu itu tampak dipenuhi lubang dalam dan permukaan bergelombang. Kondisi ini memaksa pengendara, baik roda dua maupun roda empat, untuk ekstra hati-hati setiap kali melintas.
Tak sedikit warga menilai kerusakan tersebut sudah berada di tahap membahayakan. Apalagi, jalan ini merupakan jalur penghubung penting yang setiap hari dilalui masyarakat untuk aktivitas kerja, sekolah, hingga distribusi barang.

Camat Puncu, Firman Tappa, mengungkapkan bahwa pihak kecamatan sebenarnya telah bergerak cepat dengan mengajukan permohonan perbaikan kepada dinas terkait sejak dua bulan lalu. Namun hingga kini, belum ada realisasi di lapangan.
“Permohonan sudah kami ajukan sekitar dua bulan yang lalu, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Kondisi ini pun memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait lambannya respons penanganan infrastruktur yang berisiko tinggi.
Seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi mengaku prihatin. Ia menyebut jalan tersebut sempat diperbaiki sebelumnya, namun kualitasnya tidak bertahan lama.
“Dulu sudah pernah diperbaiki, tapi karena dikerjakan saat musim hujan, aspalnya cepat rusak tergerus air,” ungkapnya.
Lebih dari itu, rasa cemas kini menjadi bagian dari keseharian warga. Ia mengaku sering menyaksikan pengendara hampir terjatuh saat berusaha menghindari lubang.
“Setiap hari rasanya was-was. Beberapa waktu lalu ada pengendara hampir jatuh,” tambahnya.
Situasi ini mempertegas urgensi perbaikan jalan yang bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan menyangkut keselamatan nyawa.
Firman Tappa berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera turun tangan sebelum terjadi kecelakaan yang lebih serius.
“Kami berharap segera ada perbaikan agar tidak membahayakan masyarakat,” tegasnya.
Dengan kondisi yang semakin memburuk, warga kini hanya bisa menunggu—di tengah jalan rusak yang setiap hari mengintai risiko.
(Joko)


