TULUNGAGUNG,Bangjo.co.id – Pemerintah Desa Gedangan Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung, menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk bersama Dalang Ki Minto Darsono dengan lakon Pari Kesit Dadi Ratu.
Acara dihadiri langsung oleh Plt. Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, SM., MM,.Kepala Dinas Pariwisata, jajaran Forkopimcam Campurdarat, serta Kepala Desa Gedangan Sugeng, beserta perangkat Desa, Lembaga Desa, Ketua Rt, Rw serta warga masyarakat yang hadir.
Dalam sambutannya Kepala Desa Gedangan Sugeng, diwakili Sekretaris Desa (Sekdes) Sukowiyono, S.Pdi, menyampaikan,” bahwa pagelaran wayang ini merupakan puncak dari rangkaian panjang ritual adat.
“Kegiatan Bersih Desa Gedangan tahun ini diawali dengan prosesi Kirab Jebug yang dilaksanakan pada tanggal 26 April 2026 lalu.”ucap Wiyono pada sabtu( 2/5/2026) malam.
“Ini adalah wujud syukur kolektif masyarakat atas melimpahnya berkah di desa kami,” ujar Sekdes dalam laporannya.

Camat Campurdarat, Tri Wantoro, S.Sos., M.Si., juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kekompakan warga Desa Gedangan dalam menjaga adat istiadat.
Sementara itu, Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin dalam sambutan puncaknya menekankan pentingnya wayang kulit sebagai sarana tuntunan sekaligus tontonan bagi masyarakat.
Sebagai tanda dimulainya pagelaran, Plt. Bupati melakukan prosesi penyerahan tokoh wayang (gunungan) kepada sang dalang, Ki Minto Darsono.
Malam itu, Ki Minto Darsono membawakan lakon “Parikesit Dadi Ratu”. Sebelum memulai babak pertama, Sang Dalang sempat memaparkan sekilas filosofi dari lakon tersebut kepada para penonton.
Dikisahkan, ini menceritakan tentang penobatan Parikesit, putra Abimanyu, sebagai Raja Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayudha.
Lakon ini punya kesan moral,.menggambarkan sosok pemimpin muda yang memikul tanggung jawab besar untuk memulihkan kedamaian dan kesejahteraan negeri yang sempat porak-poranda.
Pemilihan lakon ini diharapkan menjadi doa bagi Desa Gedangan agar dipimpin dengan kebijaksanaan dan selalu dinaungi kemakmuran bagi seluruh warganya.
Pagelaran pun berlanjut hingga dini hari, diiringi alunan gamelan yang menambah sakralnya suasana malam Bersih Desa tersebut.
(Suhari Othek)


