Scroll Untuk Lanjut Membaca

TULUNGAGUNG,Bangjo.co.id – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Iskak Tulungagung, mengadakan kegiatan pelatihan peningkatan pelayanan yang di buka oleh Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin,S.E terkait sikap petugas dilapangan agar selalu humanis dan profesional.

Kegiatan pelatihan yang digelar di Auditorium Gedung IDIK diikuti tenaga medis dan nonmedis, mulai dari perawat, bidan, hingga petugas frontliner seperti pendaftaran, satpam, dan kebersihan mereka yang bersentuhan langsung dengan pasien, rabu (15/4/2026).

Dalam kesempatan itu Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, S.E tak menutup mata, keluhan masyarakat selama ini justru banyak muncul dari hal sederhana: cara berbicara, ekspresi, hingga kejelasan informasi.

“Sering kali yang dikeluhkan bukan obat atau alat, tapi cara kita melayani. Nada bicara, sikap, dan cara menjelaskan itu sangat menentukan kepercayaan pasien,” tegasnya.

Ia menekankan, profesionalisme tanpa empati hanya akan melahirkan pelayanan kaku dan berjarak. Padahal, menurutnya, pasien datang dalam kondisi tidak nyaman, bahkan cemas.

“Pasien itu datang dalam keadaan takut. Kalau disambut dingin, beban mereka bertambah. Tapi kalau disambut dengan empati, itu sudah jadi bagian dari proses penyembuhan,” ujarnya.

Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat sisi yang selama ini kerap terabaikan: komunikasi efektif, penanganan komplain, etika pelayanan, hingga pengelolaan emosi petugas di tengah tekanan kerja.

Lebih lanjut Ahmad Baharudin menyampaikan agar Direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung Dr. Zuhrotul Aini, Sp. A., M. Kes.. diharapkan kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari persiapan serius menuju reakreditasi sekaligus pembenahan budaya kerja.

“Kita tidak kekurangan fasilitas. Yang harus kita benahi adalah konsistensi sikap pelayanan. Target kami jelas, indeks kepuasan pasien harus di atas 85 di semua unit,” katanya.

Selama dua hari, peserta dibekali materi dari tim Komite Mutu dan praktisi service excellence. Salah satu peserta dari IGD mengakui pelatihan ini menjadi “tamparan halus” bagi tenaga kesehatan.

“Kami sering fokus ke tindakan medis, sampai lupa pasien butuh ditenangkan. Ternyata cara menyampaikan informasi itu sangat berpengaruh,” ungkapnya.

Ahmad Baharudin menutup dengan penegasan keras: akreditasi tinggi tidak boleh hanya menjadi simbol di atas kertas.

“Akreditasi A itu harus terasa. Terlihat dari fasilitas, tapi juga dirasakan dari sikap petugas. Kalau salah satunya timpang, berarti kita belum selesai,” tandasnya.

Sebagai tindak lanjut, RSUD dr. Iskak akan memperketat evaluasi melalui survei kepuasan pasien dan metode mystery guest. Hasilnya akan menjadi tolok ukur kinerja sekaligus bahan evaluasi menuju akreditasi mendatang.

Pelatihan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama: menghadirkan layanan cepat, ramah, informatif, dan tanpa diskriminasi bukan sekadar janji, tapi standar yang harus dijaga.

 

(Suhari Othek)