Scroll Untuk Lanjut Membaca

JOMBANG,Bangjo.co.id – Suasana sakral menyelimuti Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang pada Jumat malam (01/05). Bertepatan dengan puncak purnama dalam penanggalan Jawa, sejumlah pegiat budaya dan sejarah dari Jombang, Trowulan, hingga Kediri berkumpul untuk menggelar jagongan budaya dan doa bersama demi kebangkitan Nusantara.

Acara dibuka dengan penampilan memukau Tari Klono oleh anak-anak desa setempat, disusul dengan Tari Klono Wayang Topeng Jatiduwur. Tarian tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol refleksi saat Raja Majapahit, Hayam Wuruk, menari menggunakan topeng emas di masa silam.

Diskusi hangat atau (jagongan) ini menghadirkan sederet narasumber kompeten, di antaranya:

– Nasrul Ilah (Cak Nas): Budayawan.

– Arif Yulianto (Cak Arif) & Ari Hakim:Pemerhati Sejarah.

– Supriyadi: Pemerhati Budaya.

– Isma Hakim:Praktisi Budaya sekaligus pengelola sanggar.

-RM. Kuswartono: Pembina Situs Persada Soekarno Kediri.

-Ki Budi Sejati: Tokoh Spiritual.

Dalam ulasannya, para narasumber membedah masa keemasan Nusantara di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Tak hanya itu, sosok Proklamator RI, Bung Karno, turut menjadi bahasan utama sebagai figur yang berhasil membawa Indonesia sejajar dengan kekuatan dunia pada masanya.

Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim, menekankan bahwa kebangkitan bangsa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan secara aktif.

“Kami memilih malam puncak Purnama sebagai refleksi Prabu Hayam Wuruk menari topeng berwarna emas. Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada inilah masa keemasan Majapahit terjadi,” kata Isma Hakim.

Isma berharap semangat dari tokoh-tokoh besar tersebut dapat menjadi motor penggerak bagi Indonesia modern untuk kembali mencapai kondisi (Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Karto Raharjo).

Senada dengan hal tersebut, pegiat sejarah Ari Hakim menginginkan agar momentum di Jatiduwur ini dapat menular ke wilayah-wilayah lain di Indonesia sebagai gerakan kolektif.

“Untuk bersama-sama, berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kebangkitan Nusantara benar-benar segera diberikan kepada Indonesia,” pungkas Ari Hakim.

Pertemuan ini diakhiri dengan doa bersama, memohon restu agar kejayaan masa lalu Nusantara dapat terwujud kembali di masa depan melalui persatuan dan kesadaran sejarah.