JOMBANG, Bangjo.co.id — Memasuki musim pemetikan kopi, masyarakat Kampung Adat Segunung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang kembali menyelenggarakan ritual adat Wiwit Kopi 2026 pada Minggu (9/8/2026). Tradisi tahunan ini berlangsung khidmat sekaligus semarak di hamparan perkebunan kopi warga.
Rangkaian acara dimulai dengan pemanjatan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat setempat, Sis Kuncoro. Di bawah naungan pepohonan kopi, warga beserta wisatawan berkumpul mengelilingi sajian tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk tradisional seperti ayam ingkung, mie goreng, tempe orek, kerawu, dan sambal. Pem bakaran dupa menjadi bagian utama dari prosesi penyucian awal panen.
Awal dimulainya musim pemetikan ditandai secara simbolis saat sesepuh adat memetik biji kopi berwarna merah untuk pertama kalinya. Usai pemetikan pertama, seluruh warga dan tamu undangan menyantap tumpeng bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan.

Ketua Adat Kampung Segunung, Supi’i, menjelaskan pergeseran dan keberlanjutan tradisi ini dalam kehidupan sosial masyarakat lokal.
“Wiwitan Kopi adalah tradisi turun-temurun di Kampung Adat Segunung. Sebenarnya tradisi wiwitan ini bukan hanya untuk kopi. Dulu saat di sini banyak petani padi, tradisi wiwitan juga dilakukan saat awal musim panen padi. Namun saat ini, kebanyakan masyarakat Kampung Adat Segunung menanam kopi, sehingga tradisi Wiwitan Kopi menjadi agenda rutin tiap tahun,” ujar Supi’i.
Penyelenggaraan acara berlanjut dengan peningatan kemeriahan melalui pementasan budaya dan pawai hasil bumi.
“Ada tiga gunungan hasil panen warga sekitar yang akan diarak menuju Balai Ageng Giri Kedaton Kampung Adat Segunung,” kata Supi’i.
Tiga gunungan tersebut disusun dari aneka sayur-mayur, buah-buahan, kudapan, hingga uang tunai. Warga dari berbagai usia tampak mengenakan pakaian adat sembari membawa parsel dan hasil kebun sepanjang jalur kirab menuju Pendopo Balai Ageng Giri Kedaton.

Setelah dibacakan doa keselamatan di pendopo, isi ketiga gunungan tersebut dibagikan kepada warga dan pengunjung yang memadati lokasi. Momen berebut gunungan ini diyakini membawa keberkahan sekaligus mempererat tali silaturahmi. Rangkaian perayaan Wiwit Kopi 2026 kemudian ditutup dengan pertunjukan seni tradisi Bantengan.


