JOMBANG,Bangjo.co.id– Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang digelar oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Pura Giri Loka Wonomerto tidak hanya menjadi momentum spiritual umat Hindu, tetapi juga panggung nyata peran pemuda lintas iman, khususnya pemuda Kristiani, dalam merawat toleransi dan kebersamaan.
Mengusung tema “Wasudhaiva Kutumbakam – Satu Bumi, Satu Keluarga”, perayaan ini menghadirkan semangat persaudaraan universal yang diwujudkan secara konkret melalui keterlibatan aktif berbagai elemen pemuda. Di antara yang menonjol adalah kehadiran pemuda Kristiani yang tergabung dalam Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Jombang.
Sejak awal rangkaian kegiatan, pemuda Kristiani tampak berbaur dan bekerja bersama pecalang dalam menjaga ketertiban serta kelancaran prosesi, termasuk dalam pengamanan arak-arakan ogoh-ogoh. Tidak hanya sebagai simbol kehadiran, mereka mengambil peran strategis sebagai garda pendukung yang memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan penuh rasa hormat terhadap nilai-nilai sakral umat Hindu.
Keterlibatan ini semakin kuat dengan sinergi bersama unsur lintas iman lainnya, seperti Gerakan Pemuda Ansor melalui Banser, unsur Paguyuban Gereja, Pemuda Pancasila, serta Karang Taruna kecamatan Wonosalam. Kolaborasi ini menjadi potret nyata bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga harmoni sosial.
Yudha Asmara, S.STP, ME, selaku Camat Wonosalam mengapresiasi keterlibatan aktif pemuda lintas iman, termasuk pemuda Kristiani. Ia menilai bahwa partisipasi tersebut menjadi bukti bahwa Wonosalam bukan hanya wilayah administratif, melainkan rumah bersama yang hidup dalam keberagaman.
“Peran pemuda, termasuk dari kalangan Kristiani, menjadi energi besar dalam menjaga Wonosalam sebagai laboratorium toleransi di Indonesia. Ini adalah contoh nyata bahwa perbedaan dapat dirawat melalui kerja bersama,” ujarnya.
Menariknya, perayaan ini berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadhan dan masa menjelang Paskah, menjadikan kolaborasi lintas iman semakin bermakna. Pemuda Kristiani yang terlibat tidak melihat perbedaan sebagai batas, melainkan sebagai ruang untuk menghadirkan nilai kasih, pelayanan, dan solidaritas kemanusiaan.
Kehadiran dan kontribusi pemuda Kristiani dalam perayaan Nyepi ini sekaligus menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata. Mereka tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Wonosalam yang ikut menjaga, melayani, dan merawat kebersamaan.
Dengan semangat Wasudhaiva Kutumbakam, peran pemuda Kristiani dalam perayaan ini menjadi simbol kuat bahwa masa depan toleransi Indonesia ada di tangan generasi muda—yang mampu melampaui sekat identitas demi persatuan dan kemanusiaan.
Acara Ogoh-ogoh di gelar start Dusun Ganten , lewat Dusun Plumpung, Finish Dusun Wates Desa Galengdowo kecamatan Wonosalam kabupaten Jombang 8 Maret 2026 siang
(Tri)






