JOMBANG, Bangjo.co.id— Pengembangan potensi tembakau lokal menjadi salah satu peluang usaha yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini menjadi fokus penyelenggaraan Tobacco Agropreneur Day di Pendopo Kabupaten Jombang, Selasa–Rabu (20–21 Oktober 2026), dengan mengusung tema “Level Up Tembakau Lokal: Saatnya Generasi Muda Jadi Pemain Utama”.
Kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah edukasi, pengembangan keterampilan, sekaligus perluasan jaringan bisnis bagi generasi muda yang tertarik menekuni sektor pertanian dan industri tembakau. Berbagai agenda disiapkan untuk mempertemukan pelaku usaha, petani, serta calon wirausahawan dalam menggali peluang pengembangan komoditas lokal.
Pada hari pertama, Selasa (20/10/2026), peserta mengikuti sejumlah kegiatan, mulai dari talkshow tentang peluang dan tantangan industri tembakau, business matching untuk membangun koneksi usaha, hingga tobacco processing workshop yang memberikan pembelajaran teknis mengenai pengolahan tembakau. Bazar produk lokal juga menjadi bagian dari rangkaian acara untuk memperkenalkan hasil usaha kepada pengunjung.
Sementara itu, pada Rabu (21/10/2026), kegiatan berlanjut melalui Agropreneur Showcase yang menampilkan inovasi serta produk unggulan peserta. Acara juga diisi dengan awarding sebagai bentuk apresiasi terhadap para inovator di bidang agropreneurship. Suasana kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan live music dan pembagian kopi gratis di kawasan bazar.
Melalui agenda tersebut, Tobacco Agropreneur Day diharapkan mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan usaha berbasis tembakau. Selain membuka wawasan mengenai industri, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk membangun kemitraan dan memperluas pemasaran produk lokal.
Di tengah upaya mendorong keterlibatan generasi muda, Kabupaten Jombang memiliki potensi sumber daya tembakau yang dinilai cukup besar. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Muchamad Rony, M.M., dalam pemaparannya di Pendopo Kabupaten Jombang pada 20 Oktober 2026, menyebut luas lahan budidaya tembakau di daerah tersebut mencapai sekitar 6.000 hektare.
Potensi lahan itu dapat menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya bagi petani dan tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan budidaya maupun rantai produksi tembakau. Pengembangan sektor ini juga berpeluang memberikan manfaat bagi pelaku usaha yang bergerak dalam pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.
Rony turut memaparkan angka potensi hasil panen yang disebut mencapai 15 ton per hektare. Kendati demikian, satuan hasil dan periode penghitungan angka tersebut masih perlu dikonfirmasi agar dapat memberikan gambaran yang tepat mengenai kapasitas produksi tembakau di Jombang.
Selain potensi lahan dan produksi, dukungan pemerintah daerah menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan usaha tani. Salah satu dukungan yang disebutkan ialah bantuan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), yang turut diarahkan untuk mendukung sektor pertanian.
Dalam pemaparannya, Rony menyebut alokasi bantuan mencapai sekitar 350 ton per tahun. Namun, informasi mengenai jenis bantuan, kelompok penerima, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan petani masih memerlukan penjelasan lebih lanjut agar manfaat program dapat diukur secara jelas.
Di tingkat lapangan, petani tembakau masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi hasil usaha mereka. Perubahan cuaca, tingginya biaya produksi, ketersediaan sarana pertanian, serta pergerakan harga jual menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi dalam pengembangan komoditas tersebut.
Karena itu, peningkatan potensi tembakau Jombang perlu didukung melalui langkah yang menyeluruh. Pendampingan budidaya, pemenuhan kebutuhan sarana produksi, penguatan akses pasar, serta inovasi pengolahan hasil pertanian menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai usaha.
Keterlibatan generasi muda juga dinilai dapat membuka ruang baru bagi pengembangan industri tembakau lokal. Melalui kreativitas, pemanfaatan peluang bisnis, dan kemampuan membangun jejaring, generasi muda berpotensi menghadirkan pendekatan usaha yang lebih inovatif serta memperluas jangkauan pasar produk daerah.
Penyelenggaraan Tobacco Agropreneur Day menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan potensi pertanian dengan semangat kewirausahaan. Tidak hanya memberikan ruang bagi peserta untuk belajar dan memamerkan produk, kegiatan ini juga membuka peluang terbentuknya kolaborasi antara petani, pemerintah, pelaku industri, dan calon wirausahawan.
Ke depan, pengembangan tembakau di Kabupaten Jombang diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, inovasi berkelanjutan, serta keterlibatan generasi muda, potensi tembakau lokal diharapkan dapat berkembang menjadi peluang usaha yang berdampak pada kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah.



