Scroll Untuk Lanjut Membaca

TULUNGAGUNG,Bangjo.co.id – Kreativitas warga Desa Pojok Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung patut diacungi jempol. Adalah Wanto, seorang perajin lokal yang sukses memanfaatkan perpaduan bahan alam dan sintetis menjadi kerajinan bonsai unik dan hiasan aqua scape yang bernilai ekonomi tinggi.

​Bonsai buatan Wanto dirancang menggunakan kombinasi tebing dari buatan semen, batang dan akar kayu asli, serta dedaunan berbahan sintetis. Kombinasi ini menghasilkan miniatur pohon yang tampak estetik namun minim perawatan.

​”Alhamdulillah sekitaran sini banyak yang berminat, kemarin juga ada rombongan dari Ponorogo datang membeli untuk hiasan di warung atau hiasan di rumah,” ungkap Wanto saat ditemui media Bangjo.co.id di warkop 3 IN 1 tempat usahnya di area wisata Gunung Budheg, jum’at (11/9/2026).

​Hasil karya Wanto dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, mulai dari Rp50.000 hingga Rp250.000 tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Untuk menjaga kualitas produk, ia cukup selektif dalam memilih jenis kayu. Kayu Rasamala asal Jawa Barat menjadi pilihan utamanya karena teksturnya yang kuat dan tahan terhadap air.

Namun, ia juga kerap memanfaatkan potensi kayu lokal sekitar.

​”Kalau pakai bahan kayu lokalan sini, kita pakai kayu asem, kayu kopi, dan akar kayu jati,” jelasnya.

​Tak berhenti pada kerajinan bonsai sintetis, Wanto juga terus mengeksplorasi bahan-bahan lain di sekitarnya.

Ia memproduksi hiasan berbentuk burung dari bahan bambu hingga kerajinan hiasan kura-kura yang memanfaatkan batok (tempurung) kelapa.

Ragam ornamen ini diminati pembeli untuk mempercantik interior rumah, warung makan, hingga ruangan kantor.

​Melihat potensi pasar yang terbuka lebar, Wanto berharap usahanya ini bisa menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya dinas terkait.

Pendampingan dan bantuan pengembangan usaha dinilai sangat krusial agar kerajinan ini mampu menyerap tenaga kerja lokal.

​”Kami harapkan ini bisa menjadi terobosan untuk membuka lapangan pekerjaan di bidang perajinan. Semoga ke depan bisa mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya dinas terkait, agar bisa membantu dalam mengembangkan kerajinan bonsai sintetis maupun kerajinan dari bambu ini,” pungkasnya.

 

(Suhari Othek)